Ribuan Peserta Ikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer SMM USU Tahun 2026
Rapat Koordinasi Satuan Kerja Digelar untuk Mendukung Pencapaian Target IKP dan IKU USU 2026–2031
140 Mahasiswa USU Siap Jalankan KKN-T Kampus Berdampak di Langkat
01 Desember 2025
Anggun Saraswati S.Ikom
Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar prosesi wisuda Periode I T.A 2025/2026 pada 27–29 November di Auditorium USU. Dalam kesempatan tersebut, Rektor USU, Prof. Dr. Muryanto Amin S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa dunia kerja saat ini menuntut para lulusan untuk memiliki produktivitas tinggi, kemampuan berinovasi, serta etos kerja yang kuat agar mampu bersaing di berbagai sektor profesional.
“Di dunia kerja, proses produksi tidak bergantung pada kondisi tertentu atau alasan-alasan pembenaran. Inovasi dan kerja keras adalah dua elemen yang harus berjalan seiring,” ujar Rektor dalam prosesi wisuda 2.656 lulusan USU. Lebih jauh, Prof. Muryanto Amin menjelaskan bahwa inovasi tidak mungkin muncul tanpa kerja keras; jika tidak, hal tersebut hanya menjadi sekadar angan-angan. Sebaliknya, kerja keras tanpa inovasi ibarat menyusuri labirin tanpa arah yang jelas. Keduanya diperlukan untuk mencapai hasil yang berarti.
Ia menambahkan bahwa inovasi dan kerja keras akan membawa dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan, karena keduanya berakar pada rasa percaya diri dan kebebasan untuk memilih langkah terbaik. Kebebasan ini mencakup kemampuan untuk mengeksplorasi potensi diri, mengemukakan pendapat, serta meraih peluang yang tersedia.
“Kepercayaan diri dalam menyampaikan gagasan yang bernilai akan menumbuhkan kekuatan bagi seseorang,” tegasnya. Menurutnya, ketika inovasi dan kerja keras dijalankan berlandaskan kepercayaan dan prinsip keadilan—tanpa bias maupun keberpihakan—maka kesejahteraan berkelanjutan dapat terwujud. Prinsip fairness tersebut diwujudkan dengan memperlakukan semua pihak secara setara, memberikan kesempatan yang sama, dan mengambil keputusan secara objektif.
Rektor juga mengingatkan para lulusan agar tidak terbiasa menyalahkan orang lain. “Dengan membangun rasa percaya, kita dapat menciptakan budaya yang menghargai keunggulan, tanggung jawab, dan semangat berbagi dalam komunitas,” tutupnya.